Ibu 3 orang anak itu memang tidak punya profesi yang tenar seperti kebanyakan orang. Ia hanya mengisi dengan tulisan ibu rumah tangga di setiap kolom pekerjaan pada form biodata mana pun. Tapi, kegiatan ibu yang masih lumayan energik di usia nya yang menjelang senja itu amat sangat padat.
Seperti pagi ini, yang kami sepakati sebelum nya, saya meminta untuk mengikuti kegiatan beliau sehari saja. Di awali dengan kegiatan ala ibu-ibu kebanyakan, mengantar anak bungsu nya ke sekolah yang oleh bu sri di kata kan sebagai aktivitas para macan ternak. Mama cantik anter anak.
Senyum bu sri merekah melihat saya yang sudah duduk manis di ruang tamu yang sangat sederhana. Ia menyapa dan memyalami saya, " Afwan mbak....tadi nemenin temen dulu cari sarapan "
Saya mengernyitkan dahi, " Di sela waktu yang sempit bu sri masih mau menemani teman sekedar cari sarapan ??? "
Bu sri tertawa," Lha...emang siapa saya sih mbak, sampe nolak ajakan teman ?? Kayak orang penting aja...."
Saya tersenyum. Bu sri meminta saya menunggu sejenak. " Saya mau siap-siapin perlengkapan dulu ya mbak...." kata nya.
Tak lama saya lihat bu sri sudah siap. Jilbab instan nya sudah berganti dengan jilbab segi empat.
Tampak lebih formal. Dengan gamis bahan soft jeans biru muda, di padu jilbab lebar warna dusty pink. Kaca mata silinder, lalu rompi tanpa lengan berlogo bendera Palestina, tas ransel yang keliatan macho, bu sri terlihat casual dalam penampilan, tapi tak mengurangi warna keibuan di wajah nya yang alami tanpa make up sama sekali. Tak lupa membawa helm , kami pun bersiap berangkat mengawali kegiatan beliau hari ini di sebuah majelis talim yang masih satu kecamatan dengan tempat tinggal bu sri.
" Perlengkapan nya udah di bawa bu ??" Tanya saya sekedar mengingat kan.
" Ohh...ga jadi saya yang bawa. Panitia yang akan menyedia kan kata nya. "
Ooo...kata saya singkat. Perlengkapan yang di maksud adalah, berupa satu set kain kafan.
Ya, hari ini bu sri memang di minta khusus memberi pelatihan tata cara penyelenggaraan jenazah oleh pengurus majelis talim itu.
Bu sri ternyata sudah hampir 9 tahun jadi amil jenazah. Jadi beliau bukan sekedar kasih teori tentang tata cara penyelenggaraan jenazah, tapi memang sudah membekali diri nya dengan pengalaman yang lumayan banyak. Ini salah satu yang paling menggugah saya untuk kenal dengan bu sri lebih jauh. Selain beliau juga seorang yang intens berbagi seuntai ilmu di beberapa majelis talim, halaqoh bahkan dawah sekolah juga di rambah. Di tambah lagi kegemaran nya menuangkan hampir semua pengalaman yang di alami atau di lihat nya dalam goresan-goresan yang walau pun hanya berupa status di sosial media facebook milik nya, tapi tulisan nya sarat akan makna. Segar, mengalir cenderung apa adanya, tapi justru di situlah daya tarik nya. Kisah penuh hikmah yang menginspirasi dan jauh dari kesan menggurui.
Perjalanan yang melewati jalan alternatif yang lumayan berliku dan membingungkan buat saya, ternyata buat sri jadi terlihat mudah-mudah saja. Rupa nya sudah hafal betul ia dengan lika liku jalan yang lumayan mulus namun agak sepi menurut saya
Seperti dalam perjalanan saya ke lokasi, bu sri ngotot meminta saya agar beliau yang membonceng saya di roda dua milik saya. Saya nurut saja. Apalagi pas bu sri bilang, " Nanti motor saya bisa jomplang kalo bu sri yang di bonceng di belakang..."
Hahah, ada-ada saja.
Bu sri nyaris tak berhenti bercerita. Ada saja yang bisa bikin kami tersenyum bahkan tertawa.
Satu kesan saya tentang bu sri, beliau adalah seseorang yang mengasyikkan. Enak di ajak ngobrol, dan dari cara nya berbicara saya tau, pergaulan nya lumayan luas. Bisa jadi pemcerita, bahkan jadi pendengar yang baik. Lucu, humoris...untuk seseorang yang sering berkecimpung di dunia yang lumayan serius menurut saya. Da'wah dan jenazah. Nah.....
Lebih kurang 1 jam dengan kecepatan ala emak-emak, saya dan bu sri tiba di tempat. Rupa nya , bu sri sudah di tunggu-tunggu kehadiran nya. Selesai melepas helm dan rompi, bu sri masuk dan menyalami satu-satu para hadirin sebelum duduk di tempat yang di sedia kan. Wajah bu sri cerah dan sumringah, walau udara panas mulai menyergap, di tandai dengan keringat yang mulai membutir di jidat bu sri. Tapi itu tak mengurangi semangat nya untuk mengisi dauroh.
Kesan saya, dauroh jenazah yang dalam pikiran saya semula bakalan kaku dan membosan kan, ternyata salah besar
Dauroh yang menyangkut tema besar dan serius ini berlangsung segar, di tingkahi senyum lebar peserta , walau penuh dengan pesan bermakna. Waktu 2 jam lebih itu berlalu tanpa terasa. Kadang bu sri menyampaikan pesan-pesan ulama dan hadist-hadist Rasulullah tentang kematian yang menyentuh dan menggetarkan. Saya sering mendapat kan bu sri banyak mengutip ucapan Imam syafi'i yang berkaitan dengan dzikrul maut. Rupa nya, beliau memberi kesan yang dalam bagi bu sri.
Barakallah. Teori di bahas tuntas, di selingi tanya jawab singkat. Di akhiri dengan potong-potong kain kafan sesuai kebutuhan. Semacam rekonstruksi lah. Dengan memakai patung manekin sebagai korban pembungkusan. Bu sri bilang lebih suka pakai manekin kalau dauroh, " Ga tega kalo pake relawan mbak. Selain panas , karena kan kita pakai kan kain yang berlapis-lapis, juga ada rasa yang ga enak, seolah-olah berkesan, orang masih hidup kok di kafanin gituh...." kata nya.
Saya terharu, ternyata di balik kesan bu sri yang senang bercanda, ga serius dan ga sensitif, bu sri ternyata punya hati yang lembut. Ini sejalan dengan ungkapan beliau tentang hikmah apa yang di peroleh nya hingga betah menggeluti dunia memandikan dan bungkus membungkus jenazah. "
Hikmah besar nya adalah, melembut kan hati. Semua jenazah yang saya tangani adalah para guru kebidupan bagi saya. Pemberi nasehat yang terbaik. Pemutus segala kenikmatan dan kesusahan didunia ...." kata bu sri sambil berkaca-kaca
Aah, saya haru. Semoga satu saat nanti saya di beri kesempatan dan kelembutan hati untuk bisa mengikuti jejak bu sri.
" Saya kok jadi pengen menjadi saksi sebuah momentum penting seorang manusia, yaitu awal dan akhir kehidupan yaa.....tapi rasa nya saya ga sanggup jadi bidan. Kendala umur dan otak....." kata bu sri sambil tertawa. Luar biasa
Selesai dauroh, waktu sudah masuk dzuhur. Kami sholat bersama. Lalu lanjut makan bakso.
Ternyata, ketua majelis talim di sini bersahabat baik dengan bu sri. Dan setiap selesai di minta mengisi acara, bu sri pasti berkenan meluangkan waktu sekedar berbincang hangat dengan nya. "Melepas rindu dan lapar dahaga...." kata nya. Alhamdulillah.
Tidak seperti orang kebanyakan yang gemar makan bakso, bu sri ternyata tak terlalu menyukai nya. "Kalo makan nya sih suka. Tapi ga hobbi. Biasa nya. Kalo lagi kepengeeen gitu. Itu juga ga tentu sebulan sekali. Kecuali kalo ada yang traktir , tiap hari juga hayo dehh...." canda nya. Sekilas saya mendengar pesanan bakso bu sri, bakso tanpa mie, sayuran sambil bilang ke penjual nya, ga pake mecin ....wahh....
Dalam perjalanan pulang ke rumah, bu sri masih saja tak kehabisan cerita. Rasa nya, perjalanan se panjang apapun, jadi ga membosan kan kalo bareng beliau. Seru....
Dan ketika sampai , ternyata sekumpulan remaja putri dengan pakaian sekolah sudah berkumpul di ruang depan.
" Oohh iya...sabtu siang bada dzuhur saya ada halaqoh dengan binaan mentoring SMK...." kata bu sri.
Heemm, pantes.
Bu sri pamit kedalam. Tak lama, beliau keluar sudah berganti gamis dAn jilbab instan. Jauh lebih santai tapi masih terkesan formal.
Rupa nya para remaja putri yang masih belia itu sudah paham benar apa harus dilakukan.
Sambil menunggu bu sri yang berganti pakaian, di pimpin salah seorang di antara nya, mereka memulai nya dengan kata pembuka, di lanjutkan tilawah bergantian antara mereka. Bacaan mereka cukup lancar. Dan rata-rata mereka sudah berjilbab dengan rapi dan lumayan lebar. Maa syaa Allah
Kembali saya menyimak uraian bu sri yang saya sempat saya dengar bertema akhlak terhadap al quran.
Di bahas dengan santai, segar seperti biasa , tapi isi nya padat dengan hikmah.
Lancar mengalir dari lisan beliau, dengan wajah rileks penuh keramahan. Sulit di bayang kan seorang perempuan paruh baya yang bahasa nya gaul dan simpatik dengan anak-anak remaja.
Bada ashar materi selesai. Di potong sholat ashar, kembali anak-anak remaja itu belum berkenan untuk membubar kan diri. Mereka masih asyik berdiskusi, bertanya apapun dengan guru ngaji nya.
Menjelang maghrib mereka bubar.
" Maaf yaa kelamaan. Kalo ngaji sama mereka yaa..emang lama di sesi ngobrol-ngobrol itu tadi. Harus sabar, mereka lagi semangat-semangat nya mencari tahu. Maka nya, kita kudu jadi orang tua siaga. Siap mendengar, siap menjaga....." kata bu sri tertawa.
Membersamai bu sri hari ini membuat saya lumayan lelah. Kurang lebih 30 menit menjelang azan maghrib saya harus kembali. Mengakhiri satu hari penuh arti. Entah kapan lagi saya bisa bersama beliau lagi.
Buat saya hari ini sudah berakhir, tapi buat bu sri belum. Bada magrib nanti ada jadwal halaqoh lagi. Halaqoh pegawai pabrik yang sudah 2 tahun menjadi amanah bu sri. Setelah beliau menyelesai kan tilawah rutin nya di grup ODOJ yang sudah lebih dua tahun di jalani nya.
"Doa kan saya sehat dan istiqomah yaa...." kata bu sri sebelum saya berjabat tangan dan pergi.
" Aamiin..tentu bu....."
Siapa pun yang mengenal mu, akan dengan senang hati meng amin kan doa mu itu....
Sebab, siapa lagi yang di berkahi Allah dengan kemauan dan kemampuan luar biasa seperti itu.
Kita punya hutang besar kepada orang-orang seperti bu sri. Saya yakin, bu sri bukan lah satu-satu nya.
Terima kasih Allah sudah mengkarunia kan bumi ini dengan manusia-manusia berjiwa mulia seperti itu.
Manusia yang tak di kenal penduduk bumi. Tapi nama nya tenar di atas sana. Di sebut-sebut oleh penduduk langit. Hingga tiba waktu nya nanti mereka bisa bertemu dengan orang yang selama ini menjadi buah bibir kebanggan mereka.
Semoga..
Selamat malam bu sri suharni
Assalamualaikum
0 komentar :
Posting Komentar