Don't miss
Tampilkan postingan dengan label Share. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Share. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Maret 2016

Sudah 7 Tahun Ibu Ini Berkhidmat


Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Yang Tujuh Tahun Menjadi Modin


Mungkin bagi sebagian orang akan bertanya-tanya, apa itu modin? Ya, modin adalah profesi 'amil jenazah atau orang yang biasa mengurus jenazah, mulai dari membersihkan, memandikan serta mengkafani jenazah. 


Kebanyakan profesi ini dipegang oleh orang-orang yang sudah tua atau orang sepuh. Nah, bagaimana jika profesi ini digeluti oleh seorang ibu rumah tangga? Tidak sedikit memang para ibu-ibu menjadi modin, karena keperluan untuk mengurus jenazah perempuan itu haruslah perempuan juga atau mahramnya.


Sri Suharni (40) ibu rumah tangga dengan 3 orang anak, yang juga berprofesi sebagai modin dilingkungannya. Rumahnya yang terletak di desa Taman Rahayu, Kecamatan Setu tersebut bisa dibilang menjadi jalur lintas kabupaten. Perbatasan dengan Ciketing Udik Bantar Gebang, Kota Bekasi dan sebelahnya Desa Pasir Angin Cileungsi Bogor.


"Udah dua kali dalam sepekan saya dipanggil untuk mengurusi jenazah, kemarin dan hari ini," tutur Sri setelah mengurus jenazah, Kamis (10/3) pagi. 


"Believe it or not, kalo mau Ramadhan," lanjut Sri dengan nada santai, karena begitulah pengalamannya setiap tahun.


Ternyata Sri menggeluti bidang ini sudah lebih dari tujuh tahun, mulai dari tahun 2008. Sang suami pun sangat mendukung Sri melakukan profesi ini, bahkan hampir setiap panggilan, suami mengantarkannya dengan semangat.


Awalnya menggeluti profesi ini rasa takut juga dialami oleh Sri, sebagaimana manusia pada umumnya. Bahkan terkadang Sri pun masih ada rasa deg-degan jika mendengar kabar meninggal melalui speaker masjid.


"Takut, kalo pas ditelpon atau ada pengumuman di masjid, deg-degan. Pas sampai depan pintu, liat jenazah terbujur gitu," ungkap Sri.


Namun karena sudah terbiasa rasa takut itu segera hilang setelah dia mulai membersihkan jenazah.


"Tapi kalo udah pegang rasa takut itu hilang, yang ada hanya rasa kasihan," lanjut Sri. Dia pun selalu berdoa buat jenazah dan buat dirinya sendiri.


Sri selalu teringat pesan dari seorang imam besar seperti Imam Syafi'i yang mengatakan, "dia baru saja melewati sebuah episode kesakitan yang luar biasa."


Dalam perjalanan dirinya menjadi seorang modin, banyak juga pengalaman-pengalaman yang sangat berharga. Sri melihat banyak jenazah yang tersenyum, setelah ditanya ke pihak keluarga ternyata mereka adalah orang-orang yang semasa hidupnya melakukan amal sholeh.  


Seperti meninggal habis melahirkan, ada yang meninggal juga di meja operasi tapi darahnya mengalir segar dari bekas jarum infus. "Ikhlas banget kayaknya," tutur Sri.


Sri mengaku bahwa profesinya ini mudah-mudahan menjadi tambahan ladang amalnya. Sebab dirinya tak pernah meminta imbalan sepeser pun kepada pihak keluarga jenazah. Amplop yang terkadang ia terima pun, dijadikan sebagai uang kas (persiapan) atau untuk membeli keperluan kain kafan, kapur barus dan lain-lain. Bahkan jika ada keluarga yang tidak mampu, Sri berikan peralatan itu dengan cuma-cuma.


"Jika ada yang ngasih amplop kita masuklan ke kas, atau kita kan beli sabun, sampo, sarung tangan, masker dan kain kafan. Kalo orang ga mampu kita gratisin kafannya," ungkap Sri.


Menjadi seorang modin tidaklah mudah, butuh pengorbanan, baik keluarga maupun waktu. Namun bagi Sri Suharni, ditengah-tengah kesibukannya menjadi seorang modin, dirinya ternyata aktif mengisi ta'lim dilingkungannya, bahkan menjadi mentoring siswi di SMK dan masih banyak lagi. Dan semua itu ia jalani dengan sukacita menuju ridhoNya.


Semoga kisah singkat ini menjadi ibroh bagi kita semua. 


Wallahu'alam bishshowab.



Selasa, 08 Maret 2016

Jangan Biarkan Lutung Jawa Punah


JANGAN BIARKAN LUTUNG JAWA PUNAH DI MUARA GEMBONG


Perjalanan istimewa saya lakukan Ahad (6/3) lalu ke Muara Gembong. Mengapa istimewa? Setidaknya ada dua alasan. Pertama, karena daerah yang dikunjungi jauh dari perkotaan dan pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi. Kedua, karena di wilayah tersebut, saya menyaksikan langsung aksi Lutung Jawa yang kini terancam punah. Soal Lutung Jawa ini menjadi perhatian khusus saya. Betapa tidak, 20 tahun lalu dengan mudahnya orang-orang yang berkunjung ke pesisir Muara Gembong melihat aksi Lutung Jawa yang menarik dan menggemaskan. Saat pagi kita akan mendengar hewan berbulu lebat itu bersahut-sahutan.

Kemudian kita akan terpesona ketika menyaksikan mereka menarik kepiting dengan menjuntaikan ekornya ke dalam air laut di pesisir pantai. Bagaikan pemancing. Dengan ekornya itu, kepiting dibantingnya ke pohon bakau hingga mati lalu dagingnya dilahap.

Namun itu dulu. Kemarin, saya tak lagi mendengar suara khas mereka, “kaik..kaik..kaik...” Suasananya senyap. Dan saya pun tak bisa lagi melihat lakon binatang berbahasa latin trancypitecus auratus itu menangkap kepiting. Semuanya seperti menghilang ditelan ombak pesisir.

Mengapa Lutung Jawa terancam punah? Ada hasil peneltian menarik yang dibuat oleh Pusat Studi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia tahun 2009. Mereka meneliti wilayah Pesisir Muara Gembong berdasarkan
Studi Kelautan Pelestarian Ekosistem Hutan Bakau. Salah satu sebabnya adalah akibat terjadinya perubahan ekosistem yang menuju kehancuran di sana.

Bayangkan saja, menurut data mereka, luas wilayah hutan bakau dalam kurun waktu 66 tahun (1943-2009) telah mengalami penyusutan hebat dengan tersisa hanya 16,27 persen. Penyusutan ini berbanding lurus dengan menurunnya populasi hewan yang hidupnya di hutan bakau seperti Lutung Jawa.

Saatnya kita peduli. Jangan biarkan Lutung Jawa punah. Dan munculnya relawan-relawan yang bertujuan menyelamatkan kepunahan ekosistem di Muara Gembong sangat patut kita apresiasi dan dukung.

Saya sendiri melihat salah satu skema penyelamatan Lutung Jawa dan pesisir Muara Gembong adalah dengan membangun ekoturisme. Konsep ini akan memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan (melalui pelestarian bakau dan faunanya), di bidang ekonomi (melalui pemberdayaan kelompok tani pembibit bakau, pemberdayaan warga lokal untuk pengolahan produk bakau dan perikanan) serta sosial (melalui kegiatan sosial pendidikan dan sanitasi kesehatan bagi warga lokal serta pendidikan lingkungan bagi para pengunjung/ wisatawan).

Semoga...


H. Syamsul Falah, M.Ec
Pemimpin Kabupaten Bekasi


*  *  *


Berasa ga kenal sama H Syamsul Falah ???
Sama...saya juga... :)

Tapi kalo saya sebut KH Noer Ali ??? Familiar ga ??
Pasti lah...

Apalagi kalo yang doyan wara-wiri ke daerah Kali Malang, Metropolitan Mall. 
Nahh..ntu nama nya jalan KH Noer Ali....

Jangan ngaku orang Bekasi kalo ga kenal nama itu. 
Naah....si Ustadz Syamsul Falah ini nih...putra nya Pak KH Noer Alie....

Cucok banget yak, kalo jadi pimpinan Bekasi berikut nya.
Nyook yang ngaku lope ama Bekasi, kita bikin beliau jadi Bupati.... *hihihi

Ngimpi ???
Biarin...sayang kalo orang keren begini gak jadi pemimpin Bekasi