Don't miss

Selasa, 22 Maret 2016

Rhei


By on Maret 22, 2016

~Rhei ~

Rhei memandang cermin besar di hadApan nya. Cermin yang seolah ingin melahap seluruh tubuh nya. Melucuti setiap inci wajah dan sebagian tubuh nya yang terduduk di sebuah kursi.
Sebuah perasaan hinggap yang entah dari mana asal nya. Rhei seakan baru melihat diri nya untuk pertama kali dalam hidup nya. Wanita berwajah tirus, dengan bola mata yang indah namun memancarkan lelah. Guratan halus tergambar kompak menyelimuti raut nya kini. Usia nya sudah melebihi 40 thn. Usia yang matang lagi kenyang dengan tempaan hidup.

"Mbak mau di potong model apa rambut nya ? " sebuah sapa menyadarkan Rhei.

Sejenak ia salah tingkah, " Hmmm....pendek aja mbak " sambil menunjuk sebuah foto di dinding salon.

Sang kapster tersenyum. Sambil menyelimuti tubuh kurus Rhei dengan kain penutup. Tak berapa lama, tangan lincah nya mulai mengolah kepala dan rambut panjang Rhei.

Sedikit demi sedikit untaian rambut jatuh kelantai.

Pelan dan pasti terasa ada bebAn yang hilang. Kepala Rhei terasa ringan.

Rhei menghela nafas nya berat. Rambut nya sudah tak selebat dulu. Faktor usia dan stress membuat nya harus menggulung untaian-untaian rambut nya yang rontok setiap hari. Rhei pasrah. Sudah tiada hasrat buat nya mempercantik diri.

Sosok Carla telah mengubah semua nya 5 tahun belakangan ini.

Carla, perempuan berusia 34 tahun yang telah 4 tahun ada di sAmping nya mendampingi Sutanto Hanafi, suami Rhei.

Ya, momok menakut kan bagi seorang istri dan perempuan telah menyapa sejarah hidup nya. Ketika 5 tahun lalu sang suami berkenalan dengan Carla, wanita berjilbab yang shalihah lagi jelita, saat ia bekerja di perusahaan suami nya mencari nafkah . Lalu masuk kedalam kehidupan mereka setahun kemudian.

Tak ada rasa penyesalan di hati Rhei, ia merasa itu sudah takdir. Saat ini ia hanya bisa bertahan. Bersabar di tepi harapan. Demi anak-anak dan keluarga besar nya semata. Rhei sadar ia tak sepandai dan semenarik Carla yang energik. Terlebih Carla memang tak bercela dan banyak terlihat perubahan besar pada diri suami nya sejak menikah dengan Carla. Lebih bijak dan religius. Tak ada alasan bagi Rhei untuk sekedar protes. Suami nya adil dan mensejahtera kan diri nya.

Suara hair dryer menyentak kan lamunan nya lagi. Sudut mata nya menangkap seulas senyum sang kapster. Rhei mengulas senyum.

Tiba-tiba Rhei melihat sosok yang lain di depan nya. Ia menatap wanita berwajah tirus, dengan rambut pendek yang menatap nya dengan senyum manis. Manis sekali. Kulit nya yang hitam manis, mata teduh yang indah...ahhh

"Mbak, saya mau sekalian facial, manicure , pedicure dan spa nya ya...", ungkapnya ringan. Seringan kepala nya saat ini.

"Siap bu....."

Rhei, berjalan dengan langkah riang, seakan terbang , kaki-kaki nya yang jenjang mengayun penuh bahagia. Senyum nya mereka senantiasa. Menghias wajah tirus yang kini berubah.
Cerah. Kepada dunia ia ingin berkata, ini lah Rheinaya Mustika yang telah berubah. Dari upik abu menjadi cinderella.

Tak ada lagi yang membuat nya resah dan merana .
Riang...melangkah dengan riang . Menebar kan pesona Rhei yang baru.
Ini lah aku, dunia...

#Mak's
21-03-16


Sri Suharni

Hanyalah seorang Emak alias Ibu yang masih memiliki kesempatan di dunia fana ini untuk bisa terus meneruskan tradisi dalam kebaikan meski via sederetan tulisan yang ringan ini

0 komentar :

Posting Komentar